Berawal dari Rasa Kasihan pada Ibu, Ani Susilowati (30) Sukses Kembangkan Usaha Nasi Tumpeng di Sekayu

Kisah sukses usaha nasi tumpeng kali ini datang dari Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Adalah Ani Susilowati (30), seorang anak yatim yang merintis usaha kuliner bukan karena ambisi menjadi kaya — melainkan karena rasa kasihan melihat ibunya bekerja keras seorang diri membuat kerupuk di desa. Dari ketulusan itulah lahir "Tumpeng Ayam Gurih Bu Endang", usaha nasi tumpeng yang kini berkembang melayani menu sarapan pagi hingga pesanan nasi kotak.

Kisah Ani adalah pengingat bahwa modal terbesar dalam berbisnis tidak selalu uang — kadang justru ketulusan dan kesabaran. Berikut perjalanan dan pelajaran bisnis yang bisa dipetik.

Nasi tumpeng kuning dengan lauk ayam dan sambal

Berawal dari Kepedulian pada Ibu

Seperti dilansir Info Kota Sekayu yang mewawancarai Ani pada Jumat, 16 Oktober 2026, ide merintis usaha kuliner muncul dari rasa iba. "Awalnya saya kasihan sama ibu saya, Mbak. Kasihan dari desa bikin kerupuk, capek sendirian. Jadinya saya terinspirasi membuka usaha kuliner ini, pengin merawat orang tua, karena saya yatim," kenang Ani.

Sang ibu memang punya modal keterampilan yang kuat: ia memiliki kemampuan memasak yang baik, pernah bekerja sebagai juru masak di sebuah perusahaan, dan terbiasa memasak untuk acara hajatan. Alih-alih membiarkan ibunya terus banting tulang membuat kerupuk sendirian di desa, Ani memutuskan membangun usaha kuliner — yang sekaligus menjadi jalan untuk merawat orang tuanya.

Usaha yang diberi nama "Tumpeng Ayam Gurih Bu Endang" itu berlokasi di Jalan Merdeka, Lingkungan I, Kelurahan Serasan Jaya — tepatnya di Simpang Empat Kirab, depan Alfamart, Sekayu. Lokasi di titik keramaian seperti simpang empat dan depan minimarket adalah pilihan cerdas untuk usaha kuliner sarapan: visibilitas tinggi, arus orang ramai.

Model Bisnisnya: Sarapan Pagi + Nasi Kotak

Ani tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Usahanya kini menawarkan beragam menu makanan untuk sarapan pagi serta menerima pesanan nasi kotak. Kombinasi ini cerdas karena saling melengkapi:

  • Sarapan pagi memberi arus kas harian yang rutin — pelanggan tetap yang sarapan setiap hari sebelum beraktivitas.
  • Nasi kotak memberi pemasukan tambahan dari pesanan acara — hajatan, rapat, syukuran — dengan margin per paket yang biasanya lebih baik.
  • Keduanya memakai bahan baku yang sama (nasi, ayam, lauk pauk), sehingga tidak ada pemborosan stok dan dapur tetap efisien.

Keahlian sang ibu yang terbiasa memasak untuk hajatan menjadi nilai jual utama untuk segmen nasi kotak — pasar yang sangat mengandalkan kepercayaan dan rasa yang konsisten. Sekali pelanggan puas dengan nasi kotak untuk acaranya, repeat order dan rekomendasi dari mulut ke mulut akan mengalir.

"Tantangan Terbesar Itu Kita Memang Harus Sabar"

Kalimat Ani soal tantangan usahanya patut digarisbawahi: "Tantangan terbesar dalam menjalani usaha itu kita memang harus sabar." Tidak ada cerita omzet fantastis dalam semalam — yang ada adalah ketekunan membangun usaha dari dapur, hari demi hari.

Pesan ini relevan buat siapa pun yang ingin memulai usaha kuliner. Banyak yang menyerah di bulan-bulan pertama karena pembeli belum ramai. Padahal usaha makanan — terutama yang mengandalkan pelanggan tetap seperti sarapan pagi — dibangun lewat konsistensi rasa dan kepercayaan, bukan promosi besar-besaran. Pelanggan sarapan yang puas hari ini akan kembali besok, dan mengajak temannya lusa.

5 Pelajaran Bisnis dari Kisah Ani Susilowati

1. Mulai dari keunggulan yang sudah dimiliki

Ani tidak memulai dari nol buta: ibunya sudah bisa masak enak dan berpengalaman di dapur hajatan. Pelajaran buat calon pengusaha — inventarisasi dulu keahlian yang sudah ada di keluarga atau dirimu sebelum memilih jenis usaha. Usaha yang bertumpu pada keahlian nyata jauh lebih tahan banting dibanding usaha yang sekadar ikut tren.

2. Pilih lokasi yang bekerja untukmu

Simpang empat dan depan minimarket bukan kebetulan — itu titik dengan lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan tertinggi. Buat usaha kuliner, lokasi adalah separuh pemasaran. Kalau belum mampu sewa ruko strategis, tiru polanya: titip di warung ramai, buka di depan rumah yang dilewati orang, atau manfaatkan platform pesan-antar.

3. Diversifikasi sumber pendapatan sejak awal

Sarapan + nasi kotak adalah contoh diversifikasi sederhana: satu dapur, dua segmen pasar. Prinsipnya bisa ditiru usaha kuliner apa pun — misalnya warung kopi yang juga terima pesanan snack box, atau penjual gorengan yang terima pesanan hajatan.

4. Kesabaran adalah strategi, bukan sekadar sifat

Dalam bisnis kuliner, kesabaran berarti: tetap buka dan konsisten walau hari ini sepi, tetap jaga kualitas walau bahan naik, dan tidak gonta-ganti menu setiap minggu karena tidak sabar. Kepercayaan pelanggan dibangun dalam hitungan bulan, bukan hari.

5. Bisnis yang punya "makna" lebih tahan uji

Usaha Ani punya misi personal: merawat ibu. Ketika motivasi berbisnis melampaui sekadar uang — merawat orang tua, menghidupi keluarga, membuktikan diri — daya tahannya berlipat. Di titik-titik tersulit, "kenapa" yang kuat inilah yang membuat pengusaha tidak menyerah.

Warung makan kecil di pagi hari melayani sarapan

Tips Memulai Usaha Nasi Tumpeng/Nasi Kotak Sendiri

Terinspirasi kisah Ani dan ingin mencoba usaha nasi tumpeng rumahan atau nasi kotak? Berikut panduan ringkasnya:

  1. Kuasai 2–3 menu andalan dulu: nasi kuning/tumpeng, ayam goreng/ayam bakar, dan satu lauk pendamping. Sempurnakan resepnya sampai rasanya konsisten sebelum menambah varian.
  2. Hitung HPP dengan jujur: catat semua biaya — bahan, gas, kemasan, transport. Nasi kotak biasanya dipatok Rp15–25 ribu per paket; pastikan margin minimal 30% setelah semua biaya.
  3. Mulai dari lingkaran terdekat: tawarkan ke tetangga, arisan RT, pengajian, dan acara kantor. Pesanan pertama hampir selalu datang dari orang yang sudah kenal dan percaya.
  4. Foto yang menggugah selera: di era pesan-antar online, foto adalah etalase. Modal HP dan cahaya alami sudah cukup — pelajari cara foto produk dengan HP agar laris.
  5. Siapkan sistem PO: untuk nasi kotak, terapkan pre-order H-1 atau H-2 agar belanja bahan presisi dan tidak ada sisa mubazir.
  6. Urus legalitas bertahap: mulai dari NIB, lalu pertimbangkan sertifikasi halal — apalagi menjelang kewajiban sertifikasi halal. Baca kisah Warung Pojok Malla, UMKM NTT yang bertahan dari secangkir kopi dan nasi kuning, untuk inspirasi ketekunan serupa.

Kesimpulan

Kisah sukses usaha nasi tumpeng Ani Susilowati membuktikan bahwa bisnis besar tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang ia lahir dari hal sederhana: seorang anak yang tidak tega melihat ibunya kelelahan, lalu mengubah kepedulian itu menjadi dapur yang mengepul setiap pagi di Simpang Empat Kirab, Sekayu.

Dengan keahlian memasak sang ibu, lokasi strategis, model bisnis ganda (sarapan + nasi kotak), dan kesabaran sebagai strategi utama, "Tumpeng Ayam Gurih Bu Endang" tumbuh menjadi penopang ekonomi keluarga. Kalau kamu sedang menimbang-nimbang memulai usaha kuliner, ingat pesan Ani: tantangan terbesar memang kesabaran — dan kesabaran yang konsisten selalu terbayar. Seperti kisah Putri dan usaha mochinya yang berawal dari Rp300 ribu, semua usaha besar mulai dari langkah pertama yang berani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Discovery Commerce 2026: Pesanan UMKM Melonjak Lewat Live Shopping & Video Pendek

Video Commerce Indonesia Tembus 2,6 Miliar Transaksi: Ini Cara UMKM Ikut Panen

TREN CRYPTOCURRENCY TERBARU: APA YANG HARUS DIKETAHUI INVESTOR