Dari Sumba hingga Pekalongan: 5 Pelajaran UMKM Binaan BCA Menembus Pasar Global
UMKM binaan BCA pasar global bukan lagi sekadar wacana, setelah karya perajin dari Sumba Timur sampai Pekalongan mendapat sorotan dalam ajang Kawan Nusantara 2026. Program Bakti BCA bersama Tulola ini menggelar pameran keduanya di Bali, tepatnya di Tirtasada Lobby, The Meru Sanur, pada Rabu, 7 Oktober 2026, setelah sebelumnya sukses di Jakarta pada Juli 2026. Di sana, tenun pewarna alami Sumba Timur, batik Kampung Batik Gemah Sumilir Pekalongan, dan jenama alas kaki Marista Santividya diberi panggung yang sama: mempertemukan karya UMKM binaan dengan ekosistem kreatif yang lebih luas, dari kolektor, pelaku industri, sampai calon mitra pasar.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan bahwa kekayaan tradisi dan kearifan lokal Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang mampu bersaing di pasar lebih luas. Menurutnya, pembinaan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan karya, membangun jejaring, dan menemukan peluang pasar baru. Pernyataan ini penting karena sering kali UMKM tidak kekurangan kualitas produk, melainkan kekurangan panggung, jejaring, dan narasi yang membuat produknya dipahami pembeli di luar daerah asalnya.
Tiga Kisah dari Kawan Nusantara 2026
Kisah pertama datang dari Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Komunitas penenun di sana menghasilkan wastra warna alam, dengan pewarna yang berasal dari alam dan proses yang diwariskan turun-temurun. Melalui Bakti BCA, para penenun mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan pewarna alami serta memperkuat kelembagaan usaha melalui Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata. Sepanjang 2025 saja, pendapatan komunitas penenun ini tercatat bertambah lebih dari Rp367 juta, atau melesat hingga 34 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa tradisi yang dijaga dengan baik bisa menjadi sumber penghasilan yang nyata, bukan sekadar pajangan budaya.
Kisah kedua datang dari Kampung Batik Gemah Sumilir, Pekalongan. Didampingi Bakti BCA sejak 2016 dan diresmikan sebagai Desa Wisata Binaan BCA pada 2017, Gemah Sumilir kini menjadi salah satu pilar utama UMKM binaan BCA. Kontribusi produknya secara konsisten masuk tiga besar dari 2023 hingga pertengahan 2026. Karya mereka bahkan dipercaya menjadi seragam resmi seluruh karyawan BCA di Indonesia saat perayaan HUT ke-65 BCA pada 2022. Gema canting perajin Pekalongan ini pun sudah sampai ke Eropa: tiga kain batik karya Gemah Sumilir sempat dipamerkan selama lima bulan di MARKK Museum, Hamburg, Jerman, dan tujuh kain batik mereka terjual dengan total nilai mencapai 630 euro. Ini adalah bukti bahwa batik bisa berbicara di panggung internasional tanpa kehilangan jati dirinya.
Kisah ketiga adalah Marista Santividya, jenama alas kaki yang memadukan desain modern dengan kearifan lokal, dengan sebagian besar material berasal dari Indonesia. Marista Santividya juga terpilih mengikuti Program UMKM BCA Go Export, yang bertujuan meningkatkan kesiapan pelaku usaha untuk memasuki pasar ekspor dan memperluas jangkauan bisnis ke tingkat internasional. Selain itu, Doesoen Kopi Sirap, desa binaan lain, sukses mempromosikan kopi khas Indonesia di Amsterdam Coffee Festival dan Singapore Coffee Week Festival. Polanya sama: produk lokal yang dikurasi, didampingi, lalu dipertemukan dengan pasar yang tepat.
5 Pelajaran UMKM dari Perjalanan Mereka Menuju Pasar Global
Pelajaran pertama, jaga keaslian sebagai pembeda, bukan sebagai beban. Tenun Sumba dan batik Pekalongan tidak mencoba menjadi produk massal yang seragam; justru keunikan proses dan ceritanya yang membuat pembeli internasional tertarik. Pelajaran kedua, kelembagaan itu penting: koperasi dan desa binaan membuat penenun dan perajin tidak berjuang sendiri-sendiri, melainkan punya wadah untuk mengatur produksi, menjaga mutu, dan bernegosiasi. Pelajaran ketiga, panggung dan jejaring sama pentingnya dengan produk: pameran seperti Kawan Nusantara mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, kurator, dan mitra yang tidak akan ditemui dari bengkel saja.
Pelajaran keempat, konsistensi mengalahkan sekali tampil. Gemah Sumilir didampingi sejak 2016, bukan setahun, dan hasilnya terlihat bertahun-tahun kemudian. Banyak UMKM gagal bukan karena produknya buruk, melainkan karena berhenti terlalu cepat sebelum pasar sempat mengenalnya. Pelajaran kelima, siapkan produk untuk pasar yang dituju: katalog yang rapi, cerita produk yang jelas, standar mutu yang konsisten, dan kapasitas produksi yang terukur. Pasar global tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kepastian: apakah pesanan berikutnya bisa dipenuhi dengan mutu yang sama dan tepat waktu. Tanpa kepastian ini, satu pameran yang sukses sulit berubah menjadi pesanan berulang.
Bagaimana UMKM Kecil Meniru Pola Ini Tanpa Program Besar
Tidak semua UMKM bisa langsung masuk program pembinaan besar, tetapi polanya bisa ditiru dalam skala kecil. Mulailah dengan mendokumentasikan proses dan cerita produkmu: dari mana bahannya, siapa yang membuatnya, dan apa yang membuatnya berbeda. Cerita ini adalah modal pemasaran yang gratis. Berikutnya, bergabunglah dengan komunitas atau koperasi sejenis di daerahmu, supaya biaya pameran dan pengiriman bisa ditanggung bersama. Terakhir, ikutlah satu pameran atau bazar yang sesuai target pasarmu setiap beberapa bulan, dan ukur hasilnya: berapa kontak baru, berapa pesanan lanjutan, dan apa masukan pembeli. Dengan cara ini, UMKM kecil tetap bisa naik kelas secara bertahap, tanpa harus menunggu undangan dari program besar.
Bagi pelaku UMKM yang membaca artikel ini, langkah paling realistis bukan langsung menargetkan ekspor besar-besaran, melainkan meniru urutannya: perbaiki produk dan ceritanya, bangun kelembagaan atau komunitas yang mendukung, cari panggung yang tepat, dan jaga konsistensi. Mulailah dari pasar lokal yang menghargai produkmu, lalu perluas secara bertahap. Kisah dari Sumba hingga Pekalongan ini juga mengingatkan bahwa pasar global tidak selalu berarti meninggalkan akar: justru akar yang kuatlah yang membuat produk Indonesia mudah dikenali dan sulit ditiru. Untuk inspirasi lain tentang UMKM kuliner yang naik kelas lewat festival, baca juga Festival Jajanan Bango 2026 dan kisah penjual ketoprak Pandeglang yang meraup Rp800 ribu per hari. Keduanya menunjukkan pola yang sama: produk sederhana, dikelola dengan tekun, dan dipertemukan dengan pasar yang tepat, bisa tumbuh jauh melampaui gerobak atau kampung asalnya.
Komentar
Posting Komentar