Kisah Miske Niharda: Bangkit dari Keterpurukan, dari Sepatu Kulit ke Rendang Kemasan
Kisah Miske Niharda adalah bukti nyata bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya. Hampir 30 tahun ia dan suaminya membangun usaha sepatu kulit — dengan merek sendiri Delfino dan De Monte, bengkel produksi sendiri, hampir 30 karyawan, dan kapasitas produksi sekitar 500 pasang sepatu per minggu. Bisnisnya bahkan pernah meraih penghargaan tingkat DKI Jakarta. Namun pandemi COVID-19 meruntuhkan semuanya dalam sekejap.
Pesanan berhenti total, utang menumpuk, bahan baku menumpuk tak terpakai, hingga rumahnya terancam dilelang. Di titik terendah itulah Miske membuat keputusan berani: pivot usaha sepatu ke kuliner. Lahirlah bisnis rendang kemasan merek Nihar Chaniago, yang kini berkembang dengan banyak varian produk dan dipasarkan secara online melalui Shopee, Tokopedia, dan Blibli.
Kisah Miske Niharda: 30 Tahun Membangun, Sekejap Runtuh oleh Pandemi
Sebelum pandemi, Miske Niharda dikenal di industri sepatu kulit Jakarta. Bersama sang suami, ia merintis usaha dari nol hingga memiliki bengkel produksi sendiri dengan puluhan karyawan. Produksi 500 pasang sepatu per minggu bukanlah angka kecil untuk skala UMKM — itu buah kerja keras hampir tiga dekade dan kepercayaan pelanggan yang dibangun pelan-pelan.
Penghargaan tingkat DKI Jakarta yang pernah diraihnya menjadi penanda bahwa usahanya diakui secara resmi. Namun pandemi tidak peduli pada rekam jejak. Ketika daya beli anjlok dan pesanan berhenti, arus kas mengering. Utang menumpuk, stok bahan baku menumpuk, dan ancaman lelang rumah menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Banyak pengusaha menyerah di fase ini. Miske memilih sebaliknya: ia bangkit dari keterpurukan pandemi UMKM dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya — meninggalkan zona nyaman industri sepatu dan terjun ke bisnis kuliner.
Pivot Usaha Sepatu ke Kuliner: Lahirnya Nihar Chaniago
Keputusan pivot usaha sepatu ke kuliner bukanlah keputusan impulsif, melainkan hasil perenungan panjang. Miske menyadari bahwa di tengah pandemi, kebutuhan paling dasar manusia adalah makanan. Dari sanalah ide bisnis rendang kemasan Nihar Chaniago lahir — kuliner khas Minangkabau yang tahan lama, mudah dikirim ke seluruh Indonesia, dan punya pasar luas.
Nihar Chaniago kini berkembang dengan banyak varian produk dan dijual online lewat Shopee, Tokopedia, dan Blibli. Strategi digital inilah kuncinya: tanpa toko fisik yang mahal, produknya menjangkau pelanggan dari Sabang sampai Merauke. Dapur produksinya kini kembali ramai — hanya saja yang diproduksi bukan lagi sepatu, melainkan rendang kemasan siap saji.
3 Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Miske Niharda
- Jangan menikahi produk, nikahilah kemampuan beradaptasi. Miske membuktikan identitas pengusaha bukan pada barang yang dijual, melainkan pada mentalitas memecahkan masalah. Ketika pasar sepatu runtuh, ia pindah ke pasar yang tetap hidup: makanan.
- Krisis adalah guru termahal sekaligus terbaik. Pandemi mengajarkannya pentingnya arus kas, diversifikasi, dan keberanian mengambil keputusan sulit — termasuk melepas bisnis 30 tahun demi bertahan hidup.
- Manfaatkan kanal digital sejak hari pertama. Nihar Chaniago langsung dipasarkan lewat marketplace. Bagi UMKM yang terpuruk, online bukan lagi pilihan, melainkan jalan tercepat kembali mendapat pelanggan tanpa modal besar.
Diangkat dalam "Ruang UMKM Naik Kelas" dan Podcast The Spice Guy
Kisah inspiratif ini diungkap dalam program "Ruang UMKM Naik Kelas" bersama Raden Tedi, Wakil Ketua Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia, pada episode 1 yang tayang Oktober 2026. Program itu memang dirancang mengangkat kisah nyata pelaku UMKM agar menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain di seluruh Indonesia.
Sebelumnya, perjalanan Miske juga pernah dibahas di podcast The Spice Guy — ruang diskusi yang mengupas dunia kuliner dan kewirausahaan. Dua panggung ini menunjukkan kisahnya bukan sekadar cerita bertahan hidup, melainkan studi kasus nyata tentang resiliensi UMKM Indonesia.
Semangat pantang menyerah seperti ini juga terlihat pada kisah lain yang pernah kami angkat, seperti perjuangan Teh Gambyong Kemuning yang berawal dari modal Rp8 juta hingga kisah sukses agen BRILink yang merintis dari toko kelontong. Polanya selalu sama: mulai dari keterbatasan, lalu tumbuh lewat ketekunan dan keberanian berinovasi.
Kalau Kamu Mau Meniru Jejak Ini: Simulasi Memulai Usaha Rendang Kemasan dari Dapur Rumah
Dari kisah pivot sepatu kulit ke rendang kemasan ini, redaksi mencatat tiga kriteria yang membuat produk barunya bekerja — dan ketiganya bisa jadi kompas kalau kamu suatu hari harus berganti haluan. Produknya kebutuhan pokok (orang tetap makan dalam krisis apa pun), tahan lama (rendang memang diciptakan sebagai makanan awet), dan mudah dikirim (kemasan memungkinkan penjualan online ke seluruh Indonesia tanpa toko fisik). Perhatikan juga bahwa berpindah industri tidak berarti membuang pengalaman: disiplin produksi dan kemampuan mengelola karyawan yang ditempa puluhan tahun di usaha lama tetap terpakai penuh di dapur yang baru.
Seperti apa gambaran memulai usaha rendang kemasan skala rumahan? Ini simulasi versi redaksi dengan angka perkiraan, bukan angka dari usaha mana pun yang nyata. Modal awal sekitar Rp3–6 juta: bahan baku beberapa batch produksi pertama (daging sapi adalah komponen termahal — rendang menyusut cukup banyak dari berat mentahnya), kelapa dan bumbu, kemasan pouch tahan panas beserta alat sealer atau vakum sederhana, dan biaya pengurusan izin edar serta label. Dengan asumsi harga jual kemasan 250 gram di kisaran Rp55–85 ribu dan biaya produksi per kemasan sekitar Rp35–48 ribu (estimasi redaksi), menjual 100–200 kemasan per bulan lewat marketplace dan media sosial menghasilkan omzet sekitar Rp5,5–17 juta dengan sisa kotor kasar Rp2–7 juta sebelum ongkos kirim subsidi, iklan, dan tenaga. Titik balik modal awal realistis di kisaran 2–4 bulan setelah penjualan rutin tercapai — dengan catatan uji ketahanan produk dan rasa yang konsisten harus beres lebih dulu.
Satu kesalahan yang patut dihindari dari pelajaran kisah ini: memilih produk pivot hanya karena sedang tren. Produk tren biasanya cepat basi — secara harfiah maupun permintaan — dan menuntut modal promosi terus-menerus. Produk kebutuhan pokok yang awet dan bisa dikirim jauh memberi waktu bernapas jauh lebih panjang bagi usaha yang baru bangkit, karena stok yang tidak laku hari ini masih bisa dijual minggu depan. Kalau arus kasmu tipis, pilihlah produk yang "menunggu pembeli" dengan sabar, bukan yang memaksamu mengejar pembeli setiap hari.
Langkah konkretnya: mulai dari satu resep yang paling dikuasai keluarga, buat batch kecil dan uji daya simpan serta respons tetangga dan rekan kerja, rapikan kemasan dan izinnya, lalu jual online lebih dulu sebelum berpikir menyewa tempat. Kuncinya sama seperti kisah di atas: satu produk yang kuat dan kanal digital sejak hari pertama.
FAQ
Siapa Miske Niharda?
Pengusaha asal Jakarta yang hampir 30 tahun menggeluti industri sepatu kulit bersama suaminya — merek Delfino dan De Monte — sebelum pivot ke bisnis rendang kemasan Nihar Chaniago usai pandemi COVID-19.
Apa itu bisnis rendang kemasan Nihar Chaniago?
Nihar Chaniago adalah merek rendang kemasan milik Miske Niharda dengan banyak varian produk, dipasarkan online melalui Shopee, Tokopedia, dan Blibli hingga menjangkau pelanggan di seluruh Indonesia.
Bagaimana cara bangkit dari keterpurukan pandemi bagi UMKM?
Berkaca dari kisahnya: evaluasi model bisnis secara jujur, berani pivot ke sektor yang masih punya permintaan, manfaatkan kanal digital untuk menekan biaya, dan jaga mentalitas pantang menyerah meski harus mulai dari nol lagi.
Apa pelajaran terpenting dari pivot usaha sepatu ke kuliner ini?
Pengalaman puluhan tahun tidak sia-sia meski industrinya berganti — disiplin produksi, manajemen karyawan, dan naluri bisnis yang ditempa di industri sepatu justru menjadi modal Miske membangun bisnis kulinernya dari nol.
Komentar
Posting Komentar