Kisah UMKM Pontianak: Sers Pizza Naik Kelas Lewat Program Grab Kota Masa Depan

Kisah UMKM Pontianak yang satu ini layak dijadikan pelajaran bagi pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia. Sers Pizza, usaha milik Yaser Mas'UD Attamimi di Pontianak, tumbuh lebih percaya diri setelah bergabung dengan program #KotaMasaDepan dari Grab dan OVO. Dari belajar memotret produk dengan lebih baik, mendapatkan tips pemasaran, hingga memahami data produk terlaris di jam sibuk, Sers Pizza menunjukkan bahwa naik kelas tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari keterampilan digital yang dipraktikkan setiap hari.

Toko pizza kecil di Pontianak dengan pesanan online

Apa Itu Program Grab Kota Masa Depan

Program #KotaMasaDepan adalah program Grab dan OVO untuk membantu usaha kecil dan menengah, terutama di kota-kota lapis kedua dan ketiga, agar bisa bertahan dan bertumbuh lewat teknologi. Program ini lahir pada 2021 saat pandemi, dan terus berlanjut untuk memperkuat UMKM di berbagai kota di Indonesia. Bentuk bantuannya bukan sekadar mendaftarkan usaha ke aplikasi, melainkan pelatihan daring, pendampingan luring, dan pembelajaran antarsesama pelaku usaha yang digelar bertahap.

Untuk Pontianak, program ini terasa relevan karena kota tersebut memiliki lebih dari 4.000 usaha kecil dan mikro terdaftar berdasarkan data 2024 dari dinas UMKM Kalimantan Barat, dan sebagian besar masih berada di tahap awal kematangan digital. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan bahwa sejak pandemi, Pontianak telah beralih ke digital, bahkan pasar tradisionalnya, dan masyarakatnya kini sangat melek digital. Tahun ini, kota tersebut juga membangun pusat pengemasan gratis untuk mendukung usaha baru.

Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyampaikan bahwa lewat #KotaMasaDepan, Grab ingin memberikan pendampingan yang disesuaikan supaya usaha kecil tidak hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh. Menurutnya, kota seperti Pontianak memiliki potensi besar, dan dengan akses teknologi, pelatihan, serta ekosistem Grab, usaha kecil di sana bisa naik kelas.

Perubahan Nyata yang Dirasakan Sers Pizza

Yaser Mas'UD Attamimi, pemilik Sers Pizza yang menjadi merchant Grab, menyampaikan bahwa bergabung dengan program ini membuka basis pelanggan yang lebih luas. Ia mengaku optimistis bisa naik level sebagai UMKM. Ia belajar cara memotret produk dengan lebih baik, menerima tips pemasaran, dan bahkan mendapatkan data tentang produk terlaris di jam sibuk. Ia merasa lebih melek digital dan lebih siap bersaing di pasar yang ketat.

Tiga pelajaran dari cerita ini patut dicatat. Pertama, foto produk adalah etalase digital. Pelanggan yang belum pernah datang ke toko hanya bisa menilai dari foto, sehingga foto yang terang, rapi, dan menampilkan produk secara jujur bisa menentukan apakah seseorang jadi memesan atau beralih ke toko lain. Kedua, data jam sibuk membantu pemilik usaha mengatur stok dan jam kerja. Jika produk tertentu selalu laris pada jam tertentu, pemilik bisa menyiapkan stok lebih banyak pada jam tersebut dan mengurangi pemborosan di jam sepi.

Ketiga, pemasaran tidak harus mahal. Tips pemasaran yang tepat, seperti deskripsi produk yang jelas, penawaran di jam sibuk, dan menjaga rating lewat pelayanan yang konsisten, sering kali lebih efektif daripada iklan besar yang tidak terarah. Bagi usaha kecil, konsistensi dalam hal-hal dasar ini adalah fondasi yang membuat pelanggan kembali.

Skala Dampak Grab untuk UMKM Indonesia

Cerita Sers Pizza bukan kisah tunggal. Dari 2020 hingga 2024, Grab mengklaim telah menghasilkan 2,3 juta peluang kerja lewat digitalisasi UMKM, dengan pengusaha Gen Z yang mencakup 20 persen dari mitra merchant baru. Grab juga telah menyalurkan lebih dari Rp1 triliun pembiayaan mikro kepada lebih dari 25.000 usaha lewat GrabModal Mantul dan skema Modal Usaha dari OVO.

Skala ini sejalan dengan ambisi nasional untuk mendigitalisasi 30 juta usaha kecil. Program #KotaMasaDepan disebut sebagai kontribusi utama Grab untuk ambisi tersebut, dan semakin meluas melampaui kota-kota besar, sehingga bisa menjadi cetak biru kemitraan publik dan swasta dalam skala besar. Bagi pemerintah daerah, kerja sama seperti ini juga membuka peluang untuk menggabungkan pelatihan digital dengan fasilitas pendukung lain, seperti pusat pengemasan gratis di Pontianak.

Tentu saja, digitalisasi bukan jaminan otomatis. Usaha tetap harus menjaga kualitas produk, kebersihan, ketepatan waktu pengiriman, dan pelayanan pelanggan. Platform digital hanya memperluas jangkauan, sedangkan keputusan pelanggan untuk kembali tetap ditentukan oleh pengalaman mereka saat pertama kali memesan. Itulah mengapa pelatihan yang menyentuh hal-hal dasar, seperti foto produk dan pengelolaan pesanan, justru paling berdampak bagi usaha kecil.

Pelaku usaha kecil memotret produk makanan dengan ponsel

5 Langkah Praktis Meniru Kisah UMKM Pontianak Ini

Pertama, perbaiki foto produk minggu ini juga. Gunakan cahaya alami, latar yang bersih, dan tampilkan produk dalam porsi yang sebenarnya dijual. Jangan memakai foto yang terlalu jauh dari aslinya, karena pelanggan yang kecewa jarang memberi kesempatan kedua.

Kedua, catat produk terlaris dan jam tersibuk selama dua minggu. Kamu bisa memakai buku catatan, spreadsheet sederhana, atau aplikasi kasir digital. Data kecil ini cukup untuk mengambil keputusan stok dan promosi yang lebih tepat.

Ketiga, daftar dan kelola satu kanal penjualan digital dengan sungguh-sungguh sebelum menambah kanal lain. Pastikan deskripsi produk, harga, dan jam operasional selalu diperbarui. Kanal yang dikelola setengah-setengah justru merusak kepercayaan pelanggan.

Keempat, cari program pelatihan gratis atau terjangkau di kotamu, baik dari pemerintah daerah, perusahaan teknologi, maupun komunitas usaha. Jangan menunggu program datang, tetapi aktif bertanya ke dinas terkait, komunitas UMKM, dan platform yang kamu pakai.

Kelima, rawat pelanggan yang sudah ada. Balas ulasan dengan sopan, minta masukan secara berkala, dan berikan alasan bagi pelanggan untuk kembali, misalnya menu baru, kemasan yang lebih baik, atau pelayanan yang lebih cepat. Pelanggan lama yang puas adalah promosi gratis yang paling dipercaya.

Untuk kisah UMKM lain yang juga naik kelas lewat dukungan pembiayaan, kisah Comring Sawargi Garut lewat KUR BRI menunjukkan bagaimana usaha makanan ringan bisa tumbuh hingga mempekerjakan 12 orang. Sementara itu, program Shopee Jagoan UMKM memberi gambaran tentang tantangan fulfilment dan pelajaran lain bagi UMKM yang penjualannya meledak.

Penutup

Kisah UMKM Pontianak lewat Sers Pizza mengingatkan bahwa naik kelas sering kali dimulai dari hal-hal yang terlihat sepele: foto yang lebih baik, data yang dibaca, dan pemasaran yang konsisten. Program seperti #KotaMasaDepan bisa membuka pintu, tetapi yang berjalan melewati pintu itu tetap pemilik usaha sendiri. Jika kamu punya usaha kecil, mulailah dari satu perbaikan minggu ini, ukur hasilnya selama dua minggu, lalu lanjutkan ke perbaikan berikutnya. Pertumbuhan yang bertahan lama hampir selalu dibangun selangkah demi selangkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Discovery Commerce 2026: Pesanan UMKM Melonjak Lewat Live Shopping & Video Pendek

Video Commerce Indonesia Tembus 2,6 Miliar Transaksi: Ini Cara UMKM Ikut Panen

TREN CRYPTOCURRENCY TERBARU: APA YANG HARUS DIKETAHUI INVESTOR