UMKM Binaan Pertamina Tembus Hong Kong, Singapura, dan Oman: Kisah Madu Bogor Rp3,28 Miliar

Ada kabar membanggakan dari dunia UMKM Indonesia. Sebanyak 30 UMKM binaan Pertamina mengikuti Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD pada 14–18 Oktober 2026 — dan hasilnya luar biasa. Sejumlah UMKM binaan Pertamina berhasil menembus pasar Hong Kong, Singapura, dan Oman, dengan potensi nilai transaksi menembus Rp3,28 miliar.

Kemasan madu Bogor UMKM binaan Pertamina yang tembus ekspor

Salah satu kisah paling menonjol datang dari Imago Raw Honey, produsen madu asal Bogor yang menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Hong Kong. Kisah mereka membuktikan bahwa produk lokal berkualitas — bila dikurasi dan didampingi dengan benar — punya tempat di pasar global. Berikut kisah lengkapnya dan pelajaran bisnis yang bisa dipetik.

Trade Expo Indonesia 2026: Panggung UMKM Go Global

Trade Expo Indonesia (TEI) adalah pameran dagang internasional tahunan terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan pembeli (buyer) dari berbagai negara. Edisi 2026 yang digelar 14–18 Oktober di ICE BSD, Tangerang, kembali menjadi magnet bagi UMKM yang ingin naik kelas ke pasar ekspor.

Pertamina, melalui program pembinaan UMK-nya, memboyong 30 UMKM binaan terpilih untuk tampil di ajang ini. Mereka bukan sekadar memamerkan produk — mereka difasilitasi untuk bertemu langsung dengan calon pembeli internasional, mengikuti business matching, dan menjalin kesepakatan dagang konkret. Hasilnya: MoU dan penjajakan kerja sama dengan buyer dari tiga negara.

Kisah Imago Raw Honey: Madu Bogor yang Memikat Hong Kong

Di balik capaian Rp3,28 miliar itu, ada kisah personal yang inspiratif. PT Imago Randau Harmoni, pemilik merek Imago Raw Honey, adalah UMKM asal Bogor yang memproduksi madu dari lebah jenis Itox dan Trigona (lebah klanceng). Usaha ini dirintis sejak 2019 oleh Henry, yang bermitra langsung dengan para petani lebah lokal di Bogor.

Yang membuat produknya istimewa adalah pendekatan berbasis sains. Imago Raw Honey berkolaborasi dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk memastikan kualitas dan khasiat madunya teruji. Madu mentah (raw honey) yang tidak melalui pemanasan berlebih memang sedang naik daun di pasar global karena dianggap lebih alami dan kaya enzim.

Di TEI 2026, Imago Raw Honey menandatangani MoU dengan perusahaan asal Hong Kong — kesepakatan yang membuka pintu distribusi ke Hong Kong, dengan target merambah Makau dan Maladewa dalam setahun ke depan. Bagi UMKM yang baru tujuh tahun berjalan, ini lompatan yang luar biasa.

Kunci keberhasilannya ada pada tiga hal: produk yang terdiferensiasi (madu klanceng bukan komoditas pasaran), kredibilitas ilmiah (kolaborasi dengan BRIN memberi legitimasi kualitas), dan kesiapan ekspor (kemasan, kapasitas produksi, dan legalitas yang sudah disiapkan sebelum bertemu buyer).

Famchips: Camilan Buah-Sayur yang Dilidik Singapura dan Oman

Kisah sukses tidak berhenti di madu. PT Arjuna Triple Nine dengan merek Famchips — camilan sehat berbahan buah dan sayur — melanjutkan kerja sama dengan buyer dari Singapura sekaligus menjajaki pasar Oman. Produk camilan sehat memang sedang menjadi tren global, dan Famchips menangkap momentum itu dengan tepat.

Pola yang sama terlihat di sini: produk yang mengikuti tren kesehatan global, kemasan yang siap ekspor, dan pendampingan intensif dari program pembinaan. Kombinasi ketiganya membuat buyer internasional berani berkomitmen.

5 Pelajaran Bisnis dari UMKM Binaan Pertamina yang Tembus Ekspor

1. Kualitas adalah tiket masuk, bukan pembeda. Semua UMKM yang lolos kurasi TEI sudah punya kualitas baik. Yang membedakan Imago Raw Honey adalah diferensiasi: madu klanceng + riset BRIN. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang membuat produkmu berbeda dari seribu kompetitor?

2. Sertifikasi dan legalitas bukan beban, melainkan investasi. Buyer internasional menanyakan hal-hal membosankan: sertifikat mutu, izin edar, kapasitas produksi bulanan. UMKM yang sudah menyiapkan ini jauh sebelum pameran adalah yang pulang membawa MoU.

3. Ikut program pembinaan yang tepat. Program seperti pembinaan UMK Pertamina, kurasi Kemendag, atau pendampingan ekspor lainnya memberi akses yang sulit didapat sendirian: kurasi produk, pelatihan, hingga fasilitasi business matching. Cari dan ikuti program yang relevan dengan bisnismu.

4. Pahami tren pasar global. Imago Raw Honey menangkap tren raw honey; Famchips menangkap tren camilan sehat. Produk yang selaras dengan tren global jauh lebih mudah diterima buyer dibanding produk yang "bagus tapi tidak ada yang cari".

5. Bangun cerita (storytelling) di balik produk. Kisah Henry yang bermitra dengan petani lebah lokal Bogor sejak 2019 dan berkolaborasi dengan BRIN adalah narasi yang menjual. Buyer internasional tidak hanya membeli produk — mereka membeli cerita yang bisa mereka teruskan ke konsumennya.

Cara UMKM Ikut Jejak Mereka: Langkah Praktis Menuju Ekspor

Tertarik mengikuti jejak Imago Raw Honey? Berikut peta jalannya. Pertama, pastikan produkmu punya keunggulan unik dan kualitas konsisten — uji ke laboratorium bila perlu. Kedua, urus legalitas dasar: NIB, sertifikat halal (kini wajib untuk produk makanan), dan PIRT atau BPOM sesuai kategorinya.

Ketiga, siapkan kemasan berstandar ekspor: informasi dalam bahasa Inggris, takaran internasional, dan desain yang kompetitif di rak luar negeri. Keempat, daftarkan usahamu ke program pembinaan — mulai dari dinas koperasi setempat, Kemendag, hingga program BUMN seperti Pertamina. Kelima, ikuti pameran dagang, mulai dari yang lokal sebagai latihan sebelum menuju ajang internasional seperti TEI.

Prosesnya memang tidak instan — Imago Raw Honey butuh tujuh tahun dari 2019 hingga MoU Hong Kong. Tetapi setiap tahunnya adalah akumulasi: kualitas yang dijaga, jaringan yang dibangun, dan kesiapan yang ditingkatkan. Ekspor bukan keajaiban semalam; ia adalah hasil dari persiapan bertahun-tahun yang bertemu dengan kesempatan.

Kisah-kisah seperti ini sejalan dengan tren UMKM Indonesia yang semakin percaya diri menembus pasar global — seperti UMKM ISEF 2026 yang tembus pasar Belanda dengan potensi Rp4,4 miliar, maupun kisah Kaji Dim yang membangun imperium ekspor pangan ke Malaysia dari desa di Tulungagung.

Semoga kisah UMKM binaan Pertamina yang menembus tiga negara ini menjadi penyemangat: produk Indonesia bisa bersaing di pasar dunia — asal disiapkan dengan serius dan didampingi dengan tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Discovery Commerce 2026: Pesanan UMKM Melonjak Lewat Live Shopping & Video Pendek

Video Commerce Indonesia Tembus 2,6 Miliar Transaksi: Ini Cara UMKM Ikut Panen

TREN CRYPTOCURRENCY TERBARU: APA YANG HARUS DIKETAHUI INVESTOR